Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Filsafat Buddha : Hukum Icinen Sanzen

Jiwa adalah dasar pokok dari seluruh fenomena kehidupan sehari-hari. Dasar pokok fenomena yang mencakup aspek politik, ekonomi, sosial, budaya, dan sebagainya. Dasar pokok yang mencakup semuanya hingga ke alam semesta. Hukum Buddha menjelaskan inti sari dan wujud sesungguhnya dari jiwa sebagai Hukum Icinen Sanzen.

icinen-sanzen
Image by Johannes Plenio from Pixabay

Hukum Icinen Sanzen merupakan filsafat hidup dari hakikat hukum Buddha. Tanpa mengetahui hukum ini, walaupun dibahas sampai sejauh apapun, kita tidak akan menangkap intisari jiwa yang sesungguhnya.

Icinen Sanzen berarti, dalam Icinen (sekejap perasaan jiwa) tercakup sepuluh dunia. Sedangkan sepuluh dunia tersebut saling mencakupi. Sehingga keseluruhannya menjadi seratus dunia. Dalam seratus dunia tersebut tercakup sepuluh Aspek (Ju Nyoze). Sehingga menjadi seribu Aspek (Nyoze). Dalam seribu Aspek tercakup tiga perbedaan, sehingga menjadi tiga ribu perbedaan. 

Icinen Sanzen menjelaskan ketercakupan 3.000 perbedaan dalam Icinen (sekejap perasaan jiwa). Jika seseorang ingin mengetahui angka 3.000 yang merupakan wujud sesungguhnya jiwa, dia harus tahu keadaan jiwa dari Sepuluh Dunia, Tiga Perbedaan, dan Sepuluh Aspek.

Sepuluh Dunia (jukkai)


Berikut ini urutan sepuluh dunia dari dunia paling rendah sampai dunia paling tinggi, menurut Agama Buddha. Untuk penjelasan detail tentang masing-masing dunia, bisa teman-teman klik tautan dari masing-masing dunia.
  1. Dunia Neraka
  2. Dunia Keserakahan
  3. Dunia Kebinatangan
  4. Dunia Ashura
  5. Dunia Manusia
  6. Dunia Surga
  7. Dunia Sravaka
  8. Dunia Pratekyabuddha
  9. Dunia Bodhisatva
  10. Dunia Buddha


Tiga Perbedaan (san seken)

Untuk penjelasan detail tentang masing-masing perbedaan, bisa teman-teman klik tautan dari masing-masing perbedaan. Tiga perbedaan tersebut adalah :
  1. Perbedaan Panca Skandas (Go-on Seken).
  2. Perbedaan Umat Manusia (Syujo Seken).
  3. Perbedaan Tanah Negeri (Kokudo Seken).


Sepuluh Aspek (Ju Nyoze)

Berikut ini yang termasuk dalam sepuluh Aspek (Ju Nyoze). Kesepuluh Nyoze ini tidak hanya tercakup dalam jiwa kita, namun tercakup juga di alam semesta. Jadi kesepuluh Nyoze ini tercakup dalam subjek maupun lingkungan.

Teori Sepuluh Aspek ini sama dengan teori Sepuluh Dunia, yakni membabarkan wujud sesungguhnya dari jiwa. Setiap suasana dari sekejap perasaan jiwa masing-masing dunia, dapat dibagi menjadi sepuluh sisi dari wujud sesungguhnya jiwa.

Pengamatan sepuluh sisi jiwa inilah yang dimaksud dengan Sepuluh Aspek (Nyoze).

Berikut ini penjelasan keadaan masing-masing dari Sepuluh Aspek.
1. Nyoze so (rupa)
Berarti wajah yang terlihat dari luar, yakni segi ragawi. Misalnya wajah yang berwarna hitam pada saat ajal adalah wajah neraka. Sedangkan wajah yang berwarna putih menampakkan Dunia Surga. keadaan itulah yang dikatakan sebagai Nyoze So.
2. Nyoze syo (sifat)
Berarti sifat yang ada dalam jiwa, yakni semangat, perasaan, prajna, dan lain-lainnya. Sifat baik dan buruk dari Sepuluh Dunia telah tercakup dalam jiwa itu sendiri, dan bentuknya tidak akan berubah untuk selama-lamanya.
3. Nyoze tai (hakikat)
Berarti bukan jiwa dan juga bukan raga, melainkan jiwa itu sendiri yang terwujud secara nyata pada jiwa maupun raga. Raga dari Sepuluh Dunia adalah jiwa dari Sepuluh Dunia itu sendiri.
4. Nyoze riki (kekuatan)
Kekuatan yang terdapat di dalam jiwa dan berfugsi dalam masing-masing jiwa Sepuluh Dunia.
5. Nyoze sa (fungsi gerak)
Gerakan yang berfungsi memunculkan kekuatan yang terdapat dalam jiwa sehingga menjadi nyata. Gerakan tersebut mencakup tiga karma : badan, mulut, dan hati, yang dapat berupa gerakan baik dan buruk.
6. Nyoze in (sebab)
Sebab yang tercakup dalam jiwa masing-masing. Timbulnya akibat yang berupa kebaikan atau keburukan pasti karena sebab dalam jiwa itu sendiri. Icinen yang menimbukan kebaikan maupun keburukan merupakan sebab kebiasaan (syu in) yakni Nyoze In.
7. Nyoze en (jodoh)
Jodoh untuk memperlancar hubungan antara Nyoze In dan Nyoze Ka.
8. Nyoze ka (akibat)
Akibat yang telah tercakup dalam jiwa itu sendiri. Icinen yang merasakan kebaikan dan keburukan yang telah dilaksanakan merupakan akibat kebiasaan (syu ka) yakni Nyoze Ka.
9. Nyoze ho (imbalan nyata)
Berarti Nyoze Ka yang terdapat dalam jiwa yang muncul secara nyata.
10. Nyoze honmakkukyoto (awal dan akhir sama)
Berarti Nyoze So yang pertama hingga Nyoze Ho, seluruhnya tercakup dalam Icinen. Hal ini merupakan gerakan atau keadaan yang berkesinambungan. Misalnya jiwa orang yang berada dalam Dunia Neraka, maka Nyoze So hingga Nyoze Ho nya adalah Dunia Neraka.
Demikian sedikit penjelasan mengenai hukum Icinen Sanzen, semoga memberikan karunia manfaat bagi kita semua.

Sebagai bahan referensi, teman-teman bisa baca : Majelis Nichiren Shoshu Buddha Dharma Indonesia

Salam.
Wiwid Kurniawan, S.Ag.
Wiwid Kurniawan, S.Ag. Belajar Filsafat sejak tahun 2008 dan aktif bertutur tentang filosofi agama Buddha di Jawa Tengah. Menyelesaikan studi S1 jurusan Kepanditaan di STABN Raden Wijaya

10 komentar untuk "Filsafat Buddha : Hukum Icinen Sanzen"