Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Filosofi hidup Sopo nandur bakal ngunduh

Sopo nandur bakal ngunduh, sebuah kalimat pendek tapi bermakna mendalam ini, tak diragukan lagi ketenarannya. Siapa yang menanam, dia akan menuai hasilnya. Hampir semua orang di seluruh pelosok negeri mengenal filosofi hidup yang menjadi pegangan orang jawa ini.

sopo nandur bakal ngunduh

Masih ingatkah lirik lagu mas Didi Kempot, “tak tandur pari, jebul tukule, malah suket teki” yang cukup populer dikalangan pecinta musik dangdut bernuansa bahasa jawa. Arti lirik tersebut adalah menanam padi, tetapi yang tumbuh rumput (teki).


Dalam lirik itu, bisa diartikan apa yang di tanam, kadang tumbuhnya tak sesuai dengan apa yang diharapkan. Menurut saya, lirik tersebut mengandung filosofi hidup orang jawa yang terkenal dengan kewaspadaan dan kesabarannya.


Apa kaitan antara sopo nandur bakal ngunduh dengan lirik lagunya mas Didi Kempot ? intinya sama-sama ada yang di tanam dan ada yang tumbuh, sehingga nantinya akan ada yang di panen. Meskipun, kadang apa yang kita panen tidak sesuai dengan apa yang kita tanam.

Filosofi hidup diatas mengajarkan kita bahwa, jangan berharap akan mendapatkan imbalan yang sesuai dengan apa yang kita berikan. Ketika kita punya niat untuk memberikan sesuatu ke orang lain, entah itu dalam bentuk materi ataupun sebuah pemikiran, jangan mengharapkan imbal balik.

Filosofi Menanam (Nandur)



Bagi sebagian orang, keasikan dan kegairahan dari proses menanam adalah keberhasilan apa yang ditanam itu tumbuh dan berkembang. Pada proses ini, hasil (panen) tidak terlalu dipikirkan. Tapi jangan heran, ada juga orang yang belum menanam tapi sudah menghitung hasilnya. Ini berarti orang tersebut tidak mengerti filosofi hidup.

Pada proses tumbuh dan berkembang, perhatian kita tercurahkan pada pergerakan pertumbuhan yang cukup lambat. Sambil menanti pertumbuhannya maksimal, insting kita bergerak untuk menghindarkan segala macam gangguan dari sekitar. Entah itu gangguan hama, manusia, hewan ternak, dan lain sebagainya.

Selain memproteksi gangguan dari luar, kita juga mengontrol gangguan dari dalam, dengan pemberian pupuk yang bisa melindungi akar dan menjaga pertumbuhan akar biar bisa leluasa mencari sumber makanan. Proteksi dari dalam ini penting, karena akan memperkuat akar dan menjamin tanaman tidak tumbang.

Filosofi dari proses menanam ini adalah jangan cuma fokus pada apa yang terjadi di luar diri kita saja. Jangan hanya mencari pengakuan dari lingkungan sekitar kita saja, tetapi fokuskan juga perhatian kita pada kekuatan dari dalam diri kita.

Penampilan itu penting, tetapi kepercayaan diri tak kalah pentingnya untuk dirawat dan dikembangkan, karena itu yang akan menjada jiwa dan tubuh kita tetap tegar berdiri.

Artinya, kita diajak untuk lebih mawas diri dan menggembleng mentalitas kita sebagai manusia agar tumbuh menjadi pribadi yang kuat. Filosofi hidup soal menanam ini penting, untuk menjaga kita tidak tergantung pada pengakuan dan pemberian dari luar.

Jadi, jangan pernah berharap apa yang akan diberikan orang lain kepadamu, tapi didiklah dan rawatlah mentalmu untuk mencintai dirimu seutuhnya.

Filosofi panen (Ngunduh)


Ketika proses tumbuh dan berkembangnya tanaman kita jaga dengan sepenuh cinta, pastilah apa yang akan kita panen sebanding dengan perawatan kita. Usaha tak akan pernah mengkhianati hasil. Prinsip ini yang harus di pegang erat ketika berhubungan dengan kata panen.

Filosofi hidup orang jawa mengajarkan pada kita untuk tidak menikmati hasil panen untuk diri kita sendiri. Ini yang nyata terjadi di desa, ketika seseorang panen, pasti tetangga sekitar pun merasakan hasilnya. Ini sudah jadi kunci turun temurun dan menjadi pedoman hidup kebanyakan orang jawa.

Hasil panen yang tidak dinikmati sendiri, diyakini akan membawa dampak positif di masa depan. Banyak yang meyakini, dengan membagikan hasil panen, itu artinya kita menghilangkan sifat pelit dalam diri kita.

Selain itu, tentu tetangga yang mendapat bagian hasil panen dengan sendirinya akan ikut mendoakan hasil panen kita semakin melimpah ruah.


Ngunduh wohing pakarti



Filosofi dari proses panen ini mengajarkan kita untuk menyadari bahwa kehadiran kita di dunia ini sangat tergantung pada orang lain. Karena pada dasarnya kita tidak bisa hidup seorang diri. Sifat dan sikap yang harus dibangun dan dikembangkan pada proses ini adalah lebih berkontribusi pada orang lain dan tidak menjadi orang yang sombong.

Filosofi hidup wong nandur bakalan ngunduh membawa kita pada kondisi harus menanamkan rasa cinta pada lingkungan di sekitar dengan usaha yang ekstra keras. Mengingat sikap individualisme kita juga sulit untuk dikalahkan.

Menanamkan sikap harus berbagi ke lingkungan kita agar kita terhindar dari kesombongan yang akan membawa kita pada kondisi kesepian karena ditinggalkan orang-orang di lingkungan sekitar kita.

Memang, apa yang kita panen, kadang tidak sesuai dengan apa yang kita tanam. Untuk itu, harus menggunakan filosofi ini sebagai pegangan hidup, agar kita terhindar dari kemerosotan hidup.


Salam
Wiwid Kurniawan, S.Ag.
Wiwid Kurniawan, S.Ag. Belajar Filsafat sejak tahun 2008 dan aktif bertutur tentang filosofi agama Buddha di Jawa Tengah. Menyelesaikan studi S1 jurusan Kepanditaan di STABN Raden Wijaya

Posting Komentar untuk "Filosofi hidup Sopo nandur bakal ngunduh"