Perbedaan Umat Manusia (syujo seken)

Konten [Tampil]
Perbedaan Umat Manusia, berarti perbedaan umat manusia dari Sepuluh Dunia. Perpaduan sementara dari Panca Skandas dinamakan Umat Manusia.

Dunia Buddha adalah umat manusia yang maha mulia. Oleh karena itu, dalam sastra agung (Dairon) dikatakan, "Umat manusia yang maha mulia adalah Buddha" Mengapa manusia dikatakan sama dengan Buddha ?

manusia berbeda antara satu dengan lainnya

PENJELASAN :

Pada bagian ini akan didiskusikan mengenai Perbedaan Umat Manusia (syujo seken). yang merupakan salah satu dari Tiga Perbedaan (san seken), yaitu perbedaan panca skandas, perbedaan manusia, dan perbedaan tanah negeri.

Manusia diartikan sebagai jiwa, yakni perpaduan sementara dari Panca Skandas (Go-on seken). Dunia Neraka hingga Dunia Buddha dinamakan Umat  Manusia. Yang dimaksud 'perbedaan' dari Perbedaan Panca Skandas dan Perbedaan Umat Manusia, terletak pada perbedaan cara memandang jiwa.

Perbedaan Panca Skandas membagi jiwa menjadi lima, hal itu dilakukan untuk membedakan jiwa yang satu dengan jiwa yang lainnya. Kita harus bisa memahami kepribadian dan sifat khas dari jiwa itu sendiri secara konkret.

Sedangkan perbedaan Umat Manusia menguraikan setiap jiwa secara utuh dan menyeluruh. Kemudian dianalisa dari sisi kedudukan dan perannya dalam masyarakat, serta hubungannya dengan jiwa yang lain.

Contohnya, bisa saja Panca Skandas si A dan si B sangat berlainan. Namun bisa saja keduanya berada dalam penderitaan Dunia Neraka. Keadaan tersebut jika dipandang dari perbedaan Umat  Manusia, maka keduanya adalah umat manusia dari Dunia Neraka.

Perbedaan Panca Skandas mengajarkan kita untuk menghargai dan mengagungkan kepribadian serta sifat khas setiap manusia. Sedangkan Perbedaan Umat Manusia mengajarkan kita bahwa setiap manusia harus bertumpu pada pandangan yang menyeluruh. Maksudnya adalah setiap manusia sebaiknya selalu saling membantu dan hidup dengan harmonis.

Mengenai hubungan seseorang dengan masyarakat telah sering didiskusikan dan menghasilkan berbagai pemahaman. Namun semua pemahaman itu memiliki ketimpangan yang pada akhirnya berpihak pada seseorang atau masyarakat.

Jika menitikberatkan pada seseorang maka akan berakibat egoisme yang merajalela. Akan terjadi ketidakadilan diantara sesama manusia, sehingga pertikaian antar golongan akan semakin meluas. Akhirnya masyarakat itu akan menuju kehancuran, Sedangkan jika mementingkan masyarakat maka totalisme akan merajalela sehingga terjadi penindasan terhadap  kepribadian dan kemanusiaan.

Pengamatan tentang hubungan antar manusia dengan masyarakat ini adalah masukan yang berharga bagi berbagai ilmu pengetahuan yang berkembang dalam masyarakat. Baik pada masa sekarang maupun masa yang akan datang.

Perpaduan sementara dari Panca Skandas.


Selanjutnya adalah keterangan mengenai 'manusia' yang dikatakan sebagai perpaduan sementara dari Panca Skandas. Sebenarnya mengenai hal ini sudah jelas dan juga sudah terbukti secara nyata. Jiwa kita terbentuk dari Panca Skandas. Akan tetapi, tetap merupakan satu jiwa yang utuh.

Jika dipandang dari perbedaan umat manusia, baik satu jiwa yang tersendiri maupun jiwa secara keseluruhan, semuanya adalah berdasarkan Sepuluh Dunia.

Jika memandang manusia berdasarkan Sepuluh Dunia, bukankah dalam Dunia Buddha juga terdapat Dunia Manusia ? Dalam Sastra Agung (Dairon) yang ditulis Nagarjuna dikatakan, "Manusia yang maha mulia adalah Buddha." Jika demikian mengapa manusia biasa sama denga Buddha ?

Sesuai penyebutannya, 'manusia dari Dunia Neraka', 'manusia dari Dunia Keserakahan', hingga 'manusia dari Dunia Buddha'. Oleh karena itu setiap manusia berbeda, sehingga disebut Perbedaan Umat Manusia (syujo seken).

Namun penjelasan mengenai perbedaan seperti diatas masih dalam lingkup ajaran sementara. Jika kita memandang jiwa dari inti hakikatnya, maka Dunia Buddha merupakan Icinen dari manusia biasa. Dalam jiwa Sang Buddha yang agung juga terdapat Dunia Neraka. Inilah yang dikatakan sebagai filsafat 'wujud sesungguhnya berbagai hukum (syoho jisso)', 'sepuluh dunia yang saling mencakupi (jukkai goku)', dan Icinen Sanzen dari Sadharmapundarka-sutra.

Dalam surat Syoho Jisso dikatakan, "Berbagai hukum (syoho) adalah Myohorengekyo yang terwujud secara nyata. Wujud sesungguhnya (jisso) adalah sebutan lain dari Myohorengekyo. Ketika 'neraka' menampakkan muka 'neraka' apa adanya, itulah Wujud Sesungguhnya. Apabila bentuk 'neraka' berubah menjadi 'kelaparan', maka bukan lagi bentuk 'neraka' yang sesungguhnya.

Buddha adalah bentuk Buddha, manusia biasa adalah bentuk manusia biasa dan seterusnya. Demikian pula bentuk apa adanya badan pokok dari segala gejala alam semesta adalah wujud sesungguhnya dan menjadi badan pokok Myohorengekyo yang disebut "Wujud Sesungguhnya Berbagai Hukum (syoho jisso)".

Jika dasar pokoknya adalah Myohorengekyo, maka Neraka, Keserakahan, dan dunia lainnya akan disinari kelima aksara saddharma, sehingga menjadi bentuk agung yang hakiki. Inilah wujud sesungguhnya dari perbedaan manusia.

Oleh karena itu tidak perlu membuang Dunia Neraka, dan tidak perlu memusnahkan Dunia Kelaparan. Bahkan jika tidak ada dunia-dunia tersebut maka jiwa tidak akan terwujud secara nyata, sehingga keberadaannya adalah keberadaan yang kosong.

Ketika berdasarkan Saddharma, jiwa akan disinari oleh Saddharma. Sepuluh Dunia seluruhnya akan menjadi sumber kekuatan bagi suatu kehidupan yang dapat menciptakan nilai-nilai. Keadaan seperti itulah yang disebut "Tempat umat manusia bermain dan bersenang-senang (syujo syo yuraku). 
wiwid kurniawan Seorang Blogger pemula yang belajar merangkai kata kata sederhana

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Perbedaan Umat Manusia (syujo seken)"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel