Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Perbedaan Tanah Negeri (kokudo seken)

Perbedaan Tanah Negeri (kokudo seken) adalah tempat menetapnya Sepuluh Dunia. Dunia Neraka tinggal diatas besi yang terbakar merah membara. Dunia Kelaparan berada pada 500 yojana di bawah bumi. Dunia Binatang berada di air, darat, dan udara. Dunia Asura berada di dasar laut dan pantai. Dunia Manusia berada di bumi. Dunia Surga berada di istana. Dwiyana berada di Tanah Upaya. Bodhisattva berada di Tanah Imbalan Nyata. Buddha berada di Tanah Buddha (jakko).

dunia dan angkasa tempat manusia

PENJELASAN:

Perbedaan Tanah Negeri (kokudo seken) menunjukkan tempat tinggal manusia dari Sepuluh Dunia. Dalam "Surat Perihal Tanda-Tanda Alamat" dikatakan, "Sepuluh penjuru adalah lingkungan (eho), dan manusia adalah subjek (syoho). Badan diumpamakan sebagai subjek dan lingkungan adalah bayangannya. Jika tidak ada badan pasti tidak ada bayangan. Demikian pula jika tidak ada subjek maka tidak akan ada lingkungan. Tetapi sebaliknya subjek terbentuk dari lingkungan".

Dengan demikian, umat manusia dari Sepuluh dunia (subjek) serta tanah negeri yang ditempati umat manusia (lingkungan) adalah kesatuan badan dan bayangan yang tidak terpisahkan. Jiwa Dunia Neraka menetap dalam tanah negeri yang sesuai dengan jiwa Dunia Neraka tersebut. 

Begitupun masing-masing Dunia, dari Dunia kelaparan sampai Dunia Buddha memiliki tempatnya masing-masing.

Orang berejeki adalah seperti halnya manusia surga tinggal di istana. Dwiyana berada di Tanah Upaya. Contohnya adalah laboratorium tempat para ilmuwan atau sanggar seni milik para seniman. Bodhisattva berada di Tanah Imbalan Nyata. 

Akan tetapi pada dasarnya seluruh tanah negeri ini adalah fana. Hanya Tanah Buddha yang ditempati oleh Buddha merupakan tanah negeri yang selalu ada sejak asal mula (kekal).

Meskipun demikian, penjelasan ini masih dalam tahap Ajaran Sementara dan Ajaran Bayangan. Masing-masing tanah negeri tersebut dibabarkan sebagai dunia yang berlainan. Tanah Buddha yang merupakan tempat menetap para Buddha terpisah jauh dengan Dunia Saha yang merupakan tanah kotor.

Dalam Bab Panjang Usia Sang Tathagata Ajaran Pokok dibabarkan bahwa Dunia Saha adalah Tanah Buddha. Pembabaran tersebut menjelaskan bahwa dunia yang nyata ini adalah tempat tinggal Buddha.

Jika dianalisa setahap lebih mendalam berdasarkan sisi filsafat jiwa, maka pohon dan rumput yang tak memiliki perasaan, serta tanah negeri juga memiliki sifat Buddha. Dengan adanya penjelasan ini maka perbedaan tanah negeri menjadi sempurna.

Kebahagiaan sama sekali tidak berada di dunia lain, tetapi justru berada di dunia atau tanah negeri tempat kita tinggal sekarang ini. Jika demikian, sumber kekuatan apakah yang dapat mengubah Dunia Saha menjadi Tanah Buddha ?

Dalam "Surat  Perihal Pencapaian Kesadaran Buddha Dalam Satu Kehidupan Ini (Issyo Jobutsu Syo)" dikatakan, "Jika perasaan hati umat manusia kotor, maka tanah air tempat tinggalnya juga kotor. Sebaliknya jika perasaan hati umat manusia suci, maka tanahnya juga suci. Meskipun ada yang suci maupun ada yang kotor, tetapi bukan berarti dua tanah air yang berbeda. Baik atau buruk perasaan hati diri sendiri yang akan membuat tanah tempat tinggalnya menjadi suci atau kotor."

Kalimat diatas mengajarkan bahwa dunia ini akan menjadi tanah suci atau tanah kotor sepenuhnya tergantung icinen kita.

Jika icinen kita adalah icinen Dunia Neraka, maka dunia yang kita tinggali adalah neraka. Oleh karena itu, jika kita tidak mengubah icinen, maka tidak akan memperoleh kesenangan, bahkan akan semakin menderita.

Jika icinen kita adalah Dunia Asura, maka dunia di sekeliling kita seluruhnya menjadi Dunia Asura. Jika icinennya Dunia Surga, maka tanah negeri pun menjadi Dunia Surga. Jika icinen kita Dunia Buddha, maka tempat kita berada akan menjadi Tanah Buddha (jakko).

Pada dasarnya sumber kebahagiaan atau penderitaan terletak pada icinen kita yang merupakan subjek. Sedangkan lingkungan kita hanyalah bayangan dari icinen kita. Oleh karena itu, jika membangun badan pokok yang benar-benar kuat dan suci, maka suasana dari dunia apapun dapat diubah menjadi Tanah Buddha.


Wiwid Kurniawan, S.Ag.
Wiwid Kurniawan, S.Ag. Belajar Filsafat sejak tahun 2008 dan aktif bertutur tentang filosofi agama Buddha di Jawa Tengah. Menyelesaikan studi S1 jurusan Kepanditaan di STABN Raden Wijaya

Posting Komentar untuk "Perbedaan Tanah Negeri (kokudo seken)"