Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Perbedaan Panca Skandas (Go-on Seken)

Panca Skandas (Go-on) berarti :
  • Jasmani (siki)
  • Menerima (ju)
  • Berpikir (so)
  • Bertindak (gyo)
  • Kecenderungan jiwa (syiki)
Skandas, jika dikatakan sesuai dengan Sembilan Dunia, artinya adalah menutupi hukum yang baik. Oleh karena itu disebut Skandas. Sebutan ini adalah berdasarkan sebab.

filsafat dan filosofi hidup
Image by Gerd Altmann from Pixabay
Skandas bisa juga berarti timbunan yang terjadi dalam berulang kali siklus hidup dan mati. Sebutan ini adalah berdasarkan akibat. Jika berdasarkan Dunia Buddha dari Sepuluh Dunia, maka akan menjadi timbunan kebahagiaan kekal yang terbungkus maitri karuna.

PENJELASAN :

Bagian ini pertama-tama menjelaskan mengenai perbedaan panca skandas yang merupakan salah satu dari Tiga Perbedaan. Panca skandas ini merupakan uraian dari bentuk gerakan jiwa yang berlainan dari setiap manusia ataupun suatu benda mati.

Jadi, perbedaan panca skandas adalah perbedaan yanng ada dari panca skandas suatu manusia dengan manusia lainnya.

Jika kita meneliti bentuk gerakan jiwa seseorang, maka kesimpulan yang kita dapatkan adalah bahwa pertama-tama harus ada jasmani, sebagai syarat utama agar ada gerakan jiwa yang nyata. Jasmani ini selalu berhubungan dengan dunia luar.

Melalui jasmani inilah, jiwa menerima semua rangsangan. Misalnya berita, udara, makanan, dan sebagainya. menerima rangsangan inilah yang dinamakan menerima (ju) dalam Panca Skandas. Setelah menerima rangsangan dari luar, maka jiwa akan melakukan pengenalan terhadap rangsangan yang diberikan terhadap jiwa tersebut.

Pengenalan terhadap rangsangan inilah yang disebut berpikir (so) dalam Panca Skandas. Selanjutnya berdasarkan pengenalan tersebut timbul reaksi yang berupa gerakan. 

Reaksi ini disebut bertindak (gyo) dalam Panca Skandas. Jika jiwa bereaksi melalui proses menerima-berpikir-berkehendak, maka ada dasar pokok yang menentukan isi, arah, waktu, dan kehendak tersebut. Dasar pokok itu adalah kecenderungan jiwa (syiki) dalam Panca Skandas.

Kesadaran, prajna, dan sebagainya juga timbul dari kecenderungan jiwa. Demikianlah jika kita menguraikan gerakan jiwa, maka pasti akan mencakup panca skandas, yang berupa jasmani, menerima, berpikir, bertindak, dan kecenderungan jiwa.

Agar lebih mudah memahami filsafat Panca Skandas ini, marilah kita membayangkannya dalam kehidupan sehari-hari. 

Misalnya, untuk mendengarkan musik, pertama-tama kita perlu organ-organ tubuh seperti indera pendengaran, saraf, otak, dan sebagainnya. ini adalah jasmani.

Kemudian, nada-nada dan irama musik yang tertata rapi dan frekuensi-frekuensi suara yang rumit masuk dalam telinga kita. Ini adalah menerima.

Setelah masuk dalam telinga, selanjutnya saraf dan otak memprosesnya hingga kita dapat mengenali rangsangan tersebut sebagai musik. Ini adalah berpikir.

Jika musiknya indah, kita akan terpesona dan tekanan darah juga meningkat atau mencucurkan air mata, jika musiknya mellow. Namun jika musiknya membosankan, kita akan menguap dan berhenti mendengarkannya. Ini adalah bertindak.

Kesadaran atau prajna dari dalam yang menimbulkan gerakan seperti ini adalah kecenderungan jiwa.

Penjelasan Aksara Skandas.


Jika dilihat dari sisi "sebab" maka skandas berarti menutupi, sedangkan jika dilihat dari sisi "akibat" berarti timbunan. Jika berdasarkan sembilan Dunia maka skandas menutupi hukum yang baik. Sebab itu akan mengundang timbunan penderitaan hidup dan mati. 

Akan tetapi, jika berdasarkan Dunia Buddha, maka hukum yang baik akan menutupi skandas. Dengan demikian, skandas itu akan tertutup oleh maitri karuna.

Pada akhirnya dapat merombak akibat yang berupa timbunan penderitaan hidup dan mati menjadi timbunan kebahagiaan sesungguhnya yang berlangsung secara kekal.

Seluruh umat manusia sejak asal mulanya memiliki jiwa Myohorengekyo yang kuat, suci, dan tak ternoda. Namun karena manusia menggerakkan panca indera secara keliru, maka menerima pemikiran yang keliru. 

Jadi timbul pemikiran yang negatif, sehingga terus menerus salah bertindak. Semuanya bisa terjadi karena terikat pada suatu keinginan yang sesat.

Oleh karena itu, jiwa Myohorengekyo yang suci dan bersih, yang sejak asal mula telah ada dalam jiwa, menjadi tertutup. Jika disinari Saddharma, maka jiwa yang kuat  dan suci tak ternoda akan timbul secara nyata.

Dengan demikian, gerakan jasmani maupun hati orang tersebut dapat memunculkan Myohorengekyo, sehingga jiwa raganya terbungkus maitri karuna.

Jika sudah demikian, Panca Skandas akan menjadi pusaka yang agung tak ternilai. Jika manusia dapat memiliki pusaka agung tak ternilai ini, maka dapat memperoleh kehidupan bahagia yang seirama dengan alam semesta.

Dengan begitu, setiap orang dapat mengembangkan kepribadiannya sehingga dapat menjalani kehidupan ini dengan kegembiraan yang tiada tara. 

Wiwid Kurniawan, S.Ag.
Wiwid Kurniawan, S.Ag. Belajar Filsafat sejak tahun 2008 dan aktif bertutur tentang filosofi agama Buddha di Jawa Tengah. Menyelesaikan studi S1 jurusan Kepanditaan di STABN Raden Wijaya

Posting Komentar untuk "Perbedaan Panca Skandas (Go-on Seken)"