Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Yang kaya makin kaya yang miskin makin miskin


Pernahkah kangmas mbakyu mendengar ungkapan yang kaya makin kaya yang miskin makin miskin ? Apakah pernyataan ini sepenuhnya benar ? Atau ini hanya sebuah ungkapan ketidakpuasan tentang kesenjangan ekonomi yang dirasakan sebagian orang ? Jika kondisinya benar seperti itu, lantas apa sebabnya dan bagaimana membalik stigma yang kaya tetap kaya, yang miskin akan selalu miskin ?

Cara cepat dan mudah menjadi kaya

Artikel ini akan mengupas persoalan kesenjangan sosial yang terjadi di wilayah tempat tinggal kita masing-masing dari sudut pandang kejiwaan. Sebagian orang mungkin berpikir, menjadi kaya tidak ada hubungan dengan olah kejiwaan dan mediasi seputar perasaan maupun cara pandang.

Mereka berpikir kaya adalah sebuah hadiah dari usaha keras yang dilakukan tanpa henti dengan mengedepankan semangat gigih berjuang dan berusaha. Pola pikir seperti ini tidak salah dan memang banyak yang sudah membuktikannya. Dengan ketekunan, kerja keras, konsisten, dan pantang menyerah, apapun bisa dicapai. Termasuk juga usaha untuk menjadi kaya, sangat mungkin bisa dicapai.

Pertanyaannya, berapa orang yang telah berhasil menerapkan prinsip hidup seperti itu ? Berapa persen dari jumlah penduduk di bumi yang berhasil merubah hidupnya dari miskin menjadi kaya ? Jika cara menjadi kaya bisa dilakukan hanya dengan cara diatas, saya yakin sampai saat ini, mayoritas penduduk bumi adalah orang kaya.

Minimal 90 % penduduk bumi ini adalah orang kaya. Namun nyatanya tidak begitu, justru yang saat ini terjadi malah sebaliknya. Apa yang salah dari semua ini ? Karena kita gak pernah melihat situasi dan kondisi ini dari sisi kejiwaan kita. Dari sisi alam bawah sadar kita.

Peran keluarga dan lingkungan


Mari kita coba telaah lebih dalam lagi, faktor apa saya yang membuat sebagian dari kita mudah menyerah ketika menghadapi kesulitan. Selalu bertujuan hidup enak tanpa perlu kerja keras. Melakukan hal-hal yang diinginkan cukup sekali saja lalu selamanya akan berhasil.

Mengerjakan banyak hal dan berpikir pasti bisa mendapat hasil lebih banyak, daripada menekuni satu hal sampai bisa menjadi ahli. Penyebab dari pola pikir ini harus segera ditemukan, ini sifatnya mendesak dan segera. Apa penyebabnya ?

Hidup seseorang telah diprogram sejak kecil oleh keluarga dan oleh lingkungan tempat dia tinggal. Seperti apa pola pikir keluarga dan lingkungan sekitar kita, menentukan seperti apa hidup kita nantinya. Proses pematangan program dan awal program tersebut masuk dan menancap di diri kita, dimulai sejak lahir sampai kita berumur 7 tahun.

Itulah usia rawan yang akan menentukan akan menjadi apa dan memiliki hidup seperti apa kita kelak. Salah memberikan program, jangan pernah berharap menemukan orang yang berbeda nantinya.

Pembentukan Pola Pikir


Program apa yang dimaksud disini ? Sejak kecil orang tua telah menanamkan pola pikir yang sama persis dengan yang mereka terima dari kakek nenek kita. Pola pikir yang diturunkan dari generasi sebelumnya lagi. Entah sudah berapa generasi pola pikir itu terus dijalani dan diajarkan.

Pola penanaman cara berpikir pada anak dari lahir sampai usia 7 tahun, bukan dari apa yang kita berikan. Seperti  belajar berhitung, membaca, maupun ketrampilan teknis lainnya. Tetapi, mereka merekam, melihat, dan merasakan apa saja yang terjadi disekitarnya meski gak diberikan secara langsung ke mereka.

Setiap detik, menit, jam, hari, minggu, bulan bahkan tahun, anak-anak ini menerima dan mendengar kata-kata yang keluar dari orang tua. Pengulangan yang diterima setiap hari akan menghasilkan cara pikir dan melahirkan karakter. Di usia anak balita sampai 7 tahun, mereka berpikir menggunakan gelombang alpha.

Gelombang alpha bekerja pada alam bawah sadar dan mempunyai kekuatan imajinasi yang kuat. Anak kecil bisa menganggap daun sebagai uang, kertas bisa jadi sebuah kapal dan rumah mewah. Pada momentum ini, apapun yang diterima akan terekam dengan baik dan jejaknya bisa dilihat seperti apa kehidupan kita sekarang.

Yang miskin bisa jadi kaya


Kondisi ini menjelaskan dengan gamblang bahwa ungkapan yang kaya makin kaya yang miskin tetap miskin. Coba ingat-ingat kembali ketika kita dihadapkan pada pilihan untuk mempunyai sesuatu, entah sepeda, motor, mobil, rumah dan sebagainya.

Pola pikir seperti apa yang seketika itu muncul ? "Mana mungkin aku bisa beli semua itu, uang aja gak punya, masih syukur bisa makan" atau pola pikir kita merespon dengan cara berbeda "apa yang harus aku lakukan untuk memilikinya. Berapa lama waktu yang aku butuhkan untuk memilikinya. Persoalan yang sama, tetapi cara pandang dan cara pikir berbeda, akan berakibat pada hasil yang berbeda.

Pembatasan dan pemakluman yang dilakukan oleh pikiran kita, asalnya dari mana ? Benar sekali, dari kebiasaan berpikir kita. Dari kebiasaan cara merespon persoalan di lingkungan kita. Sekelompok orang dengan kecenderungan sama akan berkumpul menjadi satu. 

Seperti apa lingkunganmu, coba lihat dan analisa dengan lebih serius. Ada yang menyebut hal ini dengan getaran, energi, atau sebuah hukum tarik menarik. Apapun sebutannya, tidak mengurangi sistem kerja yang ditimbulkan olehnya.

Tidak ada kata terlambat untuk sukses


Lantas, bagaimana jika sudah terlanjur berumur lebih dari 7 tahun. Katakanlah sudah berumur 20, 30, 40, atau bahkan lebih. Tidak ada kata terlambat untuk memprogram ulang pikiranmu. Tidak akan pernah gagal jika hal itu benar-benar yang kita mau.

Kita hanya malas saja untuk memulai dan sepertinya lebih sulit untuk memulai daripada menyesali hidup. Berikan sugesti pada pikiran bawah sadarmu setiap waktu. Lakukan tiap hari, minggu, bulan dan tahun. Tiba-tiba, kita akan menyadari telah menjadi orang yang beda dan dengan suasana lingkungan yang berbeda.

Getaran dari alam bawah sadar kita, akan menarik jodoh getaran dari luar diri kita yang frekuensinya sama. Marah dan benci berada pada frekuensi 20 khz. Sedangkan kebahagiaan berada pada frekuensi 40 khz. Ini hanya sebuah contoh untuk memahami hukum kekal alam semesta.

Coba renungkan, berada pada frekuensi mana dirimu sekarang ? Samakan getaranmu dengan frekuensi yang kamu inginkan. Tanpa melakukan hal ini, sekeras apapun kamu berusaha, tidak akan membuahkan hasil maksimal.

Sudah siapkah kamu menjadi orang kaya ? Persiapkanlah dari sekarang. Dengan menganalisa kecenderungan jiwa masing-masing.

Salam

Wiwid Kurniawan, S.Ag.
Wiwid Kurniawan, S.Ag. Belajar Filsafat sejak tahun 2008 dan aktif bertutur tentang filosofi agama Buddha di Jawa Tengah. Menyelesaikan studi S1 jurusan Kepanditaan di STABN Raden Wijaya

Posting Komentar untuk "Yang kaya makin kaya yang miskin makin miskin"