Merubah mental miskin dalam sekejap

Konten [Tampil]


mental-harimau
Cara menyadari dan berubah dari mental miskin ke mental kaya, memang tidak bisa dilakukan dalam waktu singkat. Ada yang bilang butuh waktu lama, karena kita tidak tahu apakah mental kita miskin atau tidak. Jadi, selama tidak mengetahui, ya lama. Bahkan mungkin tidak bisa berubah.  

Pernahkah kalian mendengar kata-kata ini “Uangnya banyak, tetapi bermental miskin, makanya hidupnya gak pernah puas”  Ungkapan ini memang ada benarnya. 

Mempunyai harta melimpah, belum tentu bisa disebut orang bermental kaya. Jika perasaannya selalu merasa kurang, selalu mengharap bantuan orang, pelit untuk menolong orang dan selalu mengharap imbalan. Itu lah yang disebut mental miskin yang akan menjadi sumber penderitaan dalam hidup.

Masih ingatkah, ketika pemerintah mau meluncurkan program BLT (Bantuan Langsung Tunai) beberapa tahun yang lalu ?. Sebelum program itu diluncurkan, dilakukan sensus ekonomi terlebih dahulu yang dilakukan oleh BPS (Badan Pusat Statistik). 

Tim BPS mendata jumlah penduduk miskin yang ada di seluruh penjuru Indonesia. Dari kota sampai ke desa. Melalui informasi yang diberikan oleh Ketua Rukun Tetangga (RT), tim bergerak ke rumah orang yang dikategorikan sebagai penduduk miskin.

Tentu ada skema dan prosedur baku untuk mengklasifikasikan siapa saja yang tergolong penduduk kurang mampu. Nama-nama target yang akan di survey pun diberikan oleh pak RT. Si A, si B, si C, dan seterusnya.


Kisah soal BLT (Bantuan Langsung Tunai)


Waktu itu, banyak pak RT yang bertanya ke petugas, maksud dan tujuan dilakukan sensus ini untuk apa ?  Apakah akan ada bantuan dari pemerintah atau hanya bertujuan untuk pendataan saja ? Karena waktu itu, ada pertanyaan detail punya tanah berapa hektar. Punya hewan ternak apa tidak. Apakah ada Televisi di rumah. Sepeda motor dan mobil punya apa tidak, dan lain sebagainya.

Namun tidak ada jawaban spesifik tentang maksud dan tujuan dilakukannya survey tersebut. “Wah, tidak tahu data ini mau digunakan untuk apa, pak RT. Saya hanya menjalankan tugas saja. Setiap tahun kan memang ada sensus-sensus begian toh pak. ya, semoga saja ada bantuan setelah ini. tapi untuk lebih jelasnya, nanti koordinator kecamatan yang akan menerangkan.”  Papar si petugas.

Dari total penduduk di satu RT, paling hanya ada 15 - 20 orang yang tergolong warga tidak mampu. Itu pun kebanyakan janda yang memang sudah usia lanjut atau memang warga yang dinilai tidak masuk kriteria warga miskin.

Begitu seluruh proses sensus selesai, data sudah disetor ke pemerintah pusat untuk diolah dan dibuat perencanaan program BLT, kabar gembira bahwa warga masyarakat yang tergolong sebagai penduduk miskin akan mendapatkan bantuan langsung berupa uang sebesar tiga ratus ribu rupiah per bulan. Uang tersebut akan diterimakan per tiga bulan sekali dan bisa diambil langsung di kantor pos.

Warga yang namanya sudah masuk ke dalam daftar penerima merasa kegirangan dan mengucap syukur karena mendapat perhatian dari pemerintah. Sementara warga yang tidak lolos seleksi, merespon berbeda-beda. Ada yang bisa menerima, namun sebagian besar tidak bisa terima. Tentu dengan berbagai alasan dan kenyataan yang dilihat, siapa yang sebenarnya berhak dan siapa yang tidak.

Akhirnya terjadi kecemburuan sosial yang cukup membuat pamong desa dan tentu saja para ketua RT selaku orang yang merekomendasikan merasa tidak nyaman. Warga mendemo dan memprotes kebijakan pemilihan daftar calon penerima bantuan langsung tunai. Pokoknya, seluruh warga minta harus dibagi rata. Karena mereka juga termasuk orang miskin. Meskipun, sudah punya sepeda motor, lahan sawahnya luas, punya usaha dagang di pasar. Ironis bukan.

Merubah mental miskin


Meskipun sebenarnya hidup berkecukupan, tetapi ketika melihat ada orang lain diperlakukan beda dengan dirinya, secara tiba-tiba bisa berubah menjadi miskin. Mental seperti inilah yang sering disebut mental miskin. Jika ada yang mengalami hal semacam itu, hati-hati, itu tanda-tanda mental miskin sudah di depan mata.

Selalu merasa tidak puas dalam hidup karena ada sifat cemburu melihat keadaan orang lain yang mendapat perlakukan lebih dibanding dirinya, ini sinyal mental miskin. Artinya, apapun yang sudah dimiliki tidak bisa dia syukuri sebagai sebuah keberhasilan atas kerja keras dan upaya diri sendiri.

Jika punya barang, yang sepele saja, misalnya rokok, selama temannya mengeluarkan rokok juga waktu nongkrong di warung atau jagongan di rumah, tidak mau mengeluarkan miliknya. Enak tidak enak, suka tidak suka sama merek rokok teman, asal hisap saja. Yang penting bisa menjaga rokok milik sendiri masih utuh.

Lho, bukankah itu tanda kalau dia pelit. Iya, begitulah, tanda-tandanya sama. Lantas bagaimana merubahnya ? Harus percaya dengan kekuatan diri sendiri. Maksudnya, kehidupan seperti apapun yang saat ini dialami dan dijalani, itu adalah buah dari ambisi dan keinginan dari dalam diri kita sendiri.

Orang yang bermental miskin, tidak akan pernah bisa merasakan kebahagiaan dalam hidupnya. Dan menurut saya, tidak akan bisa mengerti perasaan dan kondisi orang lain. Nasib yang kita jalani sekarang karena pola pikir kita yang keliru. Selama pola pikirnya masih sama seperti contoh diatas, selamanya tidak akan pernah mengalami kemajuan dalam hidupnya.

Jadi, pola pikir bahwa nasib itu ditanganku sendiri harus menjadi pegangan dalam menjalani kehidupan. Dengan begitu, tidak akan menyalahkan siapapun dan akan merasakan kepuasan dalam hidup kali ini. Temukan cara untuk menganalisa bagaimana menyikapi persoalan dalam hidup sambil nyeruput secangkir kopi.

Menemukan cara agar bisa merasa puas dan cukup, menjadi penting dalam hidup. Bentuk mental kita agar menjadi kuat dan kokoh. Usaha tidak akan mengkhianati hasil. mental ini yang harus dimiliki, baru bisa merombak nasib dari mental miskin ke mental kaya.
wiwid kurniawan Tidak ada kata terlambat untuk belajar

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Merubah mental miskin dalam sekejap"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel