Filosofi Teras - Buku filsafat untuk pemula

Konten [Tampil]
Filosofi Teras - Buku filsafat untuk pemula yang perlu dipertimbangkan sebagai bahan bacaan dalam usaha memahami apa itu filosofi. Lebih spesifiknya sebagai pengantar untuk mengerti tentang filsafat Stoa.

filosofi teras


Adalah Henry Manampiring, yang mendapatkan inspirasi untuk menulis buku Filosofi Teras sejak membaca buku karya Massimo Piggliuci yang berjudul How To Be a Stoic. Massimo berasal dari Italia dan sangat mengagungkan filsafat Stoisisme.

Bukan hanya melibatkan para ahli filsafat untuk mengulass filosofi teras, tetapi juga melibatkan ahli psikologi untuk mengulas lebih dalam pemahaman stoa. Sasaran utama diterbitkannya buku ini adalah sebagai langkah praktis bagaimana membentuk moral bagi anakk muda.

Topik Utama Filosofi Teras


Buku filosofi teras ini berbicara tentang kekuatan yang tersimpan dalam diri kita. Power ini bisa kita gunakan untuk memindahkan gunung maupun menguras lautan. Kekuatan apakah itu? Tidak lain dan tidak bukan adalah pikiran kita. 

Pikiran atau akal adalah milik kita seutuhnya. Tidak bisa dipinjamkan atau dipakai oleh orang lain. pikiran kita adalah milik kita dan sumber terbesar kekuatan diri kita. Topik bahasan inilah yang menjadi point penting di dalam buku filosofi teras ini. 

Seringkali kita tidak merasa jika kekuatan pikiran yang kita miliki adalah sumber kebahagiaan yang bisa kita ciptakan dan dapatkan. Lebih mudah untuk meminjam kebahagiaan dan mencari keluar dari diri kita untuk menemukan kekuatan untuk kita gunakan.

Ketika kita mulai membanding-bandingkan diri kita dengan orang lain, disitulah kita mengubur kekuatan terbesar yang kita miliki. Seandainya kondisi hidupku seperti orang itu. Seandainya aku ganteng atau cantik seperti orang itu. Seandainya aku bisa bebas melakukan apapun seperti orang itu.

Jangan jadi orang lain


Menurut Henry Manampiring, "Sekali kita menginginkan suatu peristiwa yang berbeda dengan saat ini, pada saat itu kita sebenarnya telah merampok sendiri kesempatan kita untuk menikmati dan mensyukuri saat ini."

Nah, hal ini yang jarang sekali disadari oleh orang kebanyakan dan tentu saja anak muda ada didalamnya. Jika kita tidak mampu menikmati masa sekarang yang kita jalani, bukankah hanya penyesalan yang akan kita dapatkan?

Berandai-andai untuk menjadi orang lain maupun merasakan kondisi yang berbeda dengan kondisi riil yang kita alami, adalah sebuah keniscayaan. Itulah pentingnya untuk menjadi diri sendiri dan menerima apapun yang kita hadapi saat ini, kemarin dan saat akan datang.

Filosofi teras : persepsi kita terhadap suatu peristiwa


Selain suka mencari hal-hal diluar diri kita, seringkali kita diributkan dengan persepsi terhadap suatu peristiwa yang kita hadapi. Misalnya ketika pacar tiba-tiba menyebut nama mantannya, lalu apa reaksi kita? Akan langsung menuduh bahwa dia selingkuh dengan mantan.

Padahal kondisinya belum tentu seperti itu. Faktanya memang dia menyebut nama mantan, tapi bukan berarti dia selingkuh. Mungkin hanya menyebut untuk memberikan contoh atau memperkuat argument sesuai topik yang sedang dibicarakan.

Contoh lain adalah ketika kita tidak mendapatkan apa yang kita inginkan, langsung berpikir Tuhan tidak sayang sama aku. Padahal tidak seperti itu respon yang seharusnya kita persepsikan. Mungkin saja, cara kita mencapai keinginan belum benar atau usaha kita belum cukup keras untuk mendapatkannya.

Sadar gak sih kalau selama ini cara pikir kita melenceng terlalu jauh. Sikap seperti ini yang membuat diri kita menjadi stres sendiri. Bahkan ada yang bilang bingung dengan pikirannya tetapi tidak tahu apa sebabnya. 

Mempunyai metal tangguh dan kuat


Mental tangguh itu bisa tercipta kalau kita selalu menjaga nalar kita, menjaga logika berpikir kita. Dalam buku filosofi teras ini, disebutkan juga bahwa :

"kita bisa melatih pikiran yang berhubungan dengan perasaan kita dan juga dengan opini kita."

Dari kutipan diatas, dapat kita simpulkan bahwa kekuatan terbesar untuk merubah dan mengkondisikan diri kita menjadi apapun yang kita inginkan, berada dalam pikiran kita.

Opini orang lain pun bisa kita kondisikan ingin kita sikapi dengan santai atau malah kita rasakan menghantam diri kita dan melemahkan diri kita. 

Jadi, mental tangguh dan kuat itu berasal dari dalam diri kita sendiri, tergantung bagaimana pikiran kita mengelolanya. Cara terima dan cara pandang kita akan menentukan, mental seperti apa yang akan kita miliki dan kita bentuk dalam diri pribadi kita.

 Ada hal-hal yang bisa dikontrol oleh pikiran kita, tapi ada juga yang tidak.

"kita tidak bisa mengontrol dan mengendalikan hal-hal diluar diri kita. Seperti kekayaan, ketenaran, reputasi, kesehatan, adalah hal-hal diluar kendali kita."

Jika kita ingin berusaha mengontrol hal-hal yang ada diluar kendali kita, justru akan membuat kita susah untuk bahagia bahkan tidak bisa bahagia.

Kesimpulan


Point penting yang ditekankan dalam filosofi teras ini adalah untuk selalu jujur pada diri sendiri dan menerima kondisi apapun yang kita hadapi dengan bijak. Buku ini memang termasuk dalam buku filsafat untuk pemula, terutama untuk anak muda agar memiliki mental tangguh dan kuat.

Siapapun yang bisa menjaga nalarnya, tidak akan pernah merasa miskin dan akan sangat gampang merasa dirinya cukup. Sekali kita bisa memisahkan antara fakta obyektif dengan opini subyektif, hidup kita akan lebih bahagia.

Salam
wiwid kurniawan Seorang Blogger pemula yang belajar merangkai kata kata sederhana

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Filosofi Teras - Buku filsafat untuk pemula"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel