Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

7 Filosofi hidup orang jawa

filosofi hidup orang jawa

Ada begitu banyak falsafah hidup orang jawa yang bisa kita jadikan tuntunan dalam kehidupan. Tapi tidak banyak orang yang tahu tentang ajaran hidup yang disebut sangat adi luhung ini. Meskipun bagi orang jawa sendiri, apalagi generasi millenial, rasanya tidak terlalu mengenal filosofi hidup yang diwariskan turun-temurun ini. 

Memang tidak ada sekolah khusus untuk mempelajarinya, tapi kita bisa mencari tahu dari banyak sumber, lewat internet, buku-buku tentang pedoman hidup, atau bertanya langsung ke orang yang memahaminya.

Aku pun merasakan hal yang sama. Ketika ditanya soal filosofi hidup orang jawa, tidak langsung menjawab dengan penuh keyakinan, melainkan buka kamus besar dulu di google, hehe. Ironis ya, orang jawa tapi tidak mengenal filosofi yang menjadi pandangan dan pedoman hidup orang jawa. Kalau ketahuan para sesepuh di kampung halaman, pasti aku sudah di bilang "wong jowo ilang jawane."

Tapi benarkah aku ini orang jawa yang sudah kehilangan ke-jawaannya ? Ah, itu hanya anggapan mereka saja, karena aku masih orang jawa yang tanpa sadar hidup dengan menerapkan falsafah jawa. Mungkin ini salah satu praktek berfilosofi ala orang jawa juga, yang disebut ojo dumeh.

Maksudnya tidak boleh pamer, jangan sombong, dan jangan lupa diri. Jadi, aku tidak ambil pusing anggapan mereka tentang diriku dan mungkin karena mereka tidak mengenalku secara mendalam.

Kalian pasti banyak yang sepertiku, gak terlalu mengerti filosofinya apa, tapi dalam realitas kehidupan sehari-hari sudah menjalani filosofi itu. Cie, mulai menjurus ke arah sombong nih kayaknya, hehe. 

Maksudku, filosofi itu jangan cuma di hafal dan dimengerti maknanya, tapi yang paling penting dijalani dan diterapkan dalam hidup, Ngilmu iku, kalakone kanthi laku. Nah, ini yang aku pegang dalam hidup, seperti yang dijalani bapakku.

Ngomongin bapak, jadi teringat dulu beliau sering memberi petuah bahwa jadi orang itu harus bermanfaat untuk orang lain di sekitar kita. Kata bapak waktu itu "Le, urip iku urup, uripmu kudu ono gunane kanggo wong liyo". Petuah ini yang aku pegang dalam mengarungi pahit manis kehidupan. 

Waktu itu sih gak terlalu ngerti kenapa petuah ini ditekankan dan wajib hukumnya untuk dijalani. Sekarang baru tahu hasil dan manfaatnya untuk diriku sendiri. Manfaatnya apa sih ? Oke, akan aku jelaskan secara detail, kaitannya sama judul artikel ini.

Manfaat menerapkan filosofi hidup orang jawa dalam hidup.


Manfaat yang paling nyata adalah membuat hidup jadi lebih bijak, lembut hati dan sabar. Berbeda sama diriku yang dulu, gampang banget ambil keputusan tanpa memperhitungkan baik buruknya untuk diri sendiri dan orang lain. Dulu hatiku keras seperti batu, kalau punya keinginan ngotot dan orang lain harus mengerti keinginanku.

Sikap ini sangat dekat dengan angkara murka. Untung aku mau dengerin kata-kata bapak, jadinya bisa suro diro joyoningrat, lebur dening pangastuti, karena bisa mengalahkan sifat keras hati dan angkara murka.

sifat keras hati dan angkara murka

Saat ini aku pun merasa jadi orang yang gak gampang menyerah dalam hidup. Gak menyesali apa yang sudah aku lakukan karena itu bisa jadi pelajaran berharga, untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama. Jadi lebih mandiri juga, gak manja seperti jaman dulu, minta apa-apa ke orang tua harus di turuti.

Ini manfaat menerapkan pesan bapak, jadi orang itu ojo gumunan, ojo getunan, ojo kagetan, ojo aleman. Itu terjemahannya apa ya om ? Hehe, cari sendiri di kamus.

Manfaat yang paling besar adalah bisa selalu mawas diri dalam hidup. Tanpa itu, kita tidak akan bisa memaknai hidup dan belajar dari hidup itu sendiri. Sebagai manusia, harus bisa mengusahakan keselamatan, kebahagiaan, serta kesejahteraan untuk diri sendiri dan orang lain. Dengan begitu, kita bisa memberantas sifat tamak, serakah, dan angkara murka. Kalau kata bapak, memayu hayuning bawono, ambrasto dur angkoro.

Tuh kan, jadi panjang penjelasannya, karena sering dibilang ora njawani dengan alasan tidak tahu falsafah hidup orang jawa. Tahu belum tentu mengerti, mengerti belum tentu menjalani. Mana yang lebih penting, teman-teman resapi sendiri ya, cukup mengerti saja atau jalani saja meski tidak mengerti. Yakinlah bahwa yang menjadi pondasi kehidupan adalah filosofi yang mampu membawa ke arah kebahagiaan dan membuat hidupmu jadi penuh cinta.

Salah satunya filosofi hidup orang jawa ini, bisa menuntut kita ke arah hidup yang lebih bermakna dan bisa merasakan kedamaian tiada tara. Ada istilah urip mung mampir ngombe, hidup hanya sementara. Kenapa kita hidup, untuk apa kita hidup, dan akan kemana setelah hidup, sering ditanyakan oleh para pencari kebijaksanaan. Sangkan paraning dumadi, menjadi pijakan awal untuk menentukan nilai-nilai dalam hidup.

Pencapaian kedamaian hati tertinggi


Itulah ketujuh filosofi kehidupan yang dianut oleh orang jawa untuk menemukan kedamaian hati. Teman-teman pasti bertanya, lho, mana 7 filosofinya ? Coba teman-teman baca ulang dari atas dan temukan dimana letaknya, hehe.

Tulisan ini memang aku buat mengalir, bukan dalam bentuk angka 1 sampai 7 disertai judul filosofi dan pengertiannya. Seperti yang aku bilang diatas, sekarang bukan waktunya hanya mengerti ajarannya saja, tapi lebih bermanfaat secara nyata ketika kita mempraktekkan dalam hidup. 

Semakin tinggi pengetahuan seseorang, malah justru semakin gak ngerti apa-apa.

Dengan begitu, kedamaian hati bisa kita genggam dalam kehidupan dan menjadi kunci hidup yang tidak terbeli dengan uang. Ngluruk tanpa bala, menang tanpo ngasorake, sekti tanpo aji-aji, sugih tanpo bondho.

Matur nuwun
Wiwid Kurniawan, S.Ag.
Wiwid Kurniawan, S.Ag. Belajar Filsafat sejak tahun 2008 dan aktif bertutur tentang filosofi agama Buddha di Jawa Tengah. Menyelesaikan studi S1 jurusan Kepanditaan di STABN Raden Wijaya

Posting Komentar untuk "7 Filosofi hidup orang jawa"